foto untuk cover artikel

Sejarah Film di Dunia dan Perkembangan Film di Indonesia

Sejarah Film: Awal Mula Adanya Film

Sejarah Film: Film adalah tayangan visual dengan narasi yang lengkap beserta dialog dan musik latar. Film menjadi hal yang umum dan disukai sampai saat ini. Perbedaannya mungkin hanya pada cerita berdasarkan genrenya. Ada beberapa genre film seperti Sci-Fi (science fiction), Horror, Action, Romantic, Comedy, dan lain-lain.

Dari awal abad 19 film masih berwujudkan bisu (tanpa suara), bahkan hitam putih, sampai sekarang film dipenuhi dengan efek visual dan suara yang bahkan imajinasimupun dapat masuk kedalamnya.

Desember lalu dirayakan sebagai tonggak sejarah dalam film dunia. Pada 28 Desember 1895 adalah film pertama yang diproduksi dan ditonton oleh penonton di Paris, Prancis.

foto untuk menunjukan sosok penemu film
pict by slideshare.net

Pada tanggal itu, Charlie-Antoine Lumire menunjukkan sepuluh film pendek oleh kedua putranya, Louis Lumiere dan Auguste Lumire, di Salon du Grand Caf, 14, di boulevard Capucines dan menuai kesuksesan.

Terbentuknya Film Pertama

Film bergerak pertama yang ditayangkan salah satunya adalah “Sortie de I’usine Lumire de Lyon” (Pegawai pulang dari pabrik di Lyon) yang dibuat pada tahun 1895. Film yang berdurasi sangat singkat itu berhasil membuka mata dunia, yaitu 46 detik saja.

Sebelum itu, ada film yang sudah pernah ditayangkan yaitu pada awal di tahun 1888 yang berjudul “Roundhay Garden Scene” (Adegan Taman Roundhay) karya Louis Le Prince. Mungkin karena film Lumire berdurasi lebih panjang, maka dijadikan tonggak awal sejarah perfilman dunia.

Saudara-saudara Lumire terdiri dari Auguste Marie Louis Nicolas Lumire yang lahir pada 19 Oktober 1862 dan Louis Jean Lumire yang lahir pada 5 Oktober 1864 di Besanon, Prancis. Orang tua mereka, Charles-Antoine Lumire dan Jeanne Josphine Costille Lumire, membuka studio foto sebelum mereka pindah ke kota Lyon.

Di kota ini, Louis dan Auguste menerima pendidikan teknis di sekolah teknik terbesar di Lyon. Ayahnya kemudian membuka pabrik pelat fotografi. Banyak waktu berlalu sampai perusahaan hampir bangkrut. Auguste dan saudara-saudaranya kemudian membantu upaya menghasilkan pelat foto otomatis yang menghasilkan pelat foto baru yang disebut etiquettes bleue

Niat untuk membuat gambar bergerak muncul pada tahun 1892. Mereka membuat kamera dan juga proyektor sekaligus meyakinkan proses pembuatan film. Pada akhirnya mereka mengadakan pertunjukan di Salon du Grand Caf, Paris.

Ada sepuluh film yang mereka putar pada publik saat itu. Para penonton juga dikenai tiket masuk untuk mengapresiasi pembuat film. Film pertama yang diputar adalah “Sortie de l’usine Lumire de Lyon”. Dengan format 35mm dengan aspect ratio 1.33:1 dengan kecepatan film 16 frame per detik. Dengan durasi film 46 detik, film terdiri dari 800 frame dengan panjang film 17 meter.

Langkah kedua beersaudara itu menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal yang sama. Akhirnya mereka mantap untuk membangun bisnis tersebut agar lebih pesat pada tahun 1905 setelah menyadari prospek film di masa depan.

Industri film pun semakin berkembang dengan pesat. Ribuan film diproduksi pada tahun tahun berikutnya oleh banyak studio film diseluruh dunia.

Bahkan mereka telah mengelompokkan film berdasarkan genre. Ada beberapa genre film, seperti;

  • Action yaitu genre film yang mengarahkan cerita berdasarkan aksi, dengan alur yang berpilar pada aksi sang tokoh.
  • Adventure yaitu genre film yang menceritakan sebuah petualangan dalam memecahkan suatu masalah yang menjadi pusat cerita tersebut.
  • Comedy (komedi) yaitu genre film yang bisa menceritakan tentang kisah cinta maupun persahabatan, tetapi dengan komedi komedi didalamnya.
  • Crime dan Gangster (penjahat dan gangster) yaitu genre film yang biasanya bercerita tentang suatu misi yang harus dipecahkan oleh sekelompok orang yang bisa saja menyelamatkan maupun menghancurkan.
  • Drama yaitu genre film yang hampir mirip seperti romantis, hanya saja adegan-adegannya sedikit lebih di dramatisir.
  • EpicsHistory (epik / sejarah) yaitu genre film yang menceritkan sebuah sejarah pada suatu tempat maupun orang.
  • Horror yaitu genre film yang menceritakan tentang mitos-mitos yang mistis di suatu tempat, tergantung dengan kultur daerah tersebut.
  • Science Fiction atau sci-fi (fiksi ilmiah) yaitu genre film yang menceritakan tentang eksperimen ilmiah yang terkesan tidak mungkin terjadi di kehidupan nyata. Suatu bentuk fiksi spekulatif yang terutama membahas tentang pengaruh sains dan teknologi yang diimajinasikan terhadap masyarakat dan para individual.
  • War (perang) dan western (koboi) yaitu genre film yang terkait dengan perang, biasanya di sekitar angkatan laut, angkatan udara atau tentara, kadang-kadang fokus pada tawanan perang, operasi rahasia, pendidikan dan pelatihan militer atau topik terkait lainnya.

Lumire bersaudara yang termasuk sosok awal dalam industri film ini sudah lama tiada. Louis wafat pada 6 Juni 1948, sementara Auguste pada 10 April 1954.

Saat ini, rumah mereka di Lyon menjadi Museum yang disebut dengan Institut Lumire.

Read More : Film Sci-Fi Terbaik yang Mengesankan dan Sulit untuk di Lupakan

Sejarah Film: Perkembangan Film di Indonesia

Film Indonesia sejak tahun 1980-an sampai dengan 1990-an lumayan terpuruk. Manusia perfilman Indonesia seperti tidak bisa menghadapi arus film impor.

Masalah yang dihadapi tergolong kompleks, mulai dari persoalan dana, sumber daya manusia hingga kebijakan pemerintah. Persoalan tersebut lama-kelamaan semakin memberikan jarak antara film, bioskop, dan penonton, tiga komponen yang seharusnya memiliki pemahaman yang sama terhadap sebuah industri film.

Pada awal milenium baru, antusiasme baru dimulai di industri film Indonesia. Karya-karya para pembuat film seperti Garin Nugroho, Riri Reza, Rizal Mantovani, Jose Purnomo dan beberapa pembuat film lainnya seperti memberi semangat baru bagi industri film Indonesia.

Fakta ini cukup menggembirakan, karena selain terjadi bersamaan dengan munculnya film-film dari dunia ketiga, industri film tidak terasa yang sebenarnya sudah dikenal di Indonesia. Di Indonesia, film ini pertama kali diperkenalkan pada 5 Desember 1900 di Batavia (Jakarta). Saat itu film itu berjudul “Idoep Pictures”. Pertunjukan film pertama diadakan di Tanah Abang. Film ini adalah film dokumenter yang membahas perjalanan Ratu dan Raja Belanda di Den Haag.

Pertunjukan pertama ini tidak berhasil karena harga tiketnya sangat mahal. 1901, harga tiket bisa dinaikkan hingga 75% untuk mendapatkan minat penonton. Film fitur pertama yang dikenal di Indonesia pada tahun 1905 didukung dari Amerika. Film-film penting ini diubah menjadi Melayu. penonton dan bioskop juga meningkat.

Film ini pertama kali diangkat pada tahun 1926. Sebuah film bisu cerita pertama. Agak diterbitkan memang. Karena tahun ini, di bagian lain dunia, film-film bersuara ini telah difilmkan sebagai Local Loeweng Kasaroeng, yang diproduksi oleh NV Java Film Company. Iklan film lokal berikutnya adalah Eulis Atjih yang dibuat oleh perusahaan yang sama.

Setelah film kedua diproduksi, perusahaan film lain muncul, seperti Halimun Film Bandung, yang membuat Lily van Java dan Film Jawa Coy (Semarang), yang memproduksi Blood-Stained Sets. Industri film lokal sendiri hanya bisa membuat film suara pada tahun 1931. Film ini disetujui oleh Perusahaan Film Tans yang disetujui oleh Kruegers Film Bedrif di Bandung dengan judul Atma de Vischer. Selama periode waktu itu (1926-1931), 21 judul film (diam dan disuarakan) diterima.

Jumlah bioskop meningkat pesat. Filmrueve (majalah film pada waktu itu) pada tahun 1936 menerima 227 bioskop. Untuk lebih mempopulerkan film-film Indonesia, Djamaludin Malik didorong oleh keberadaan Festival Film Indonesia (FFI) I pada 30 Maret-5 April 1955, setelah sebelumnya pada 30 Agustus 1954 sebuah PPFI (Asosiasi Perusahaan Film Indonesia) dibentuk.

Film Jam Malam oleh Usmar Ismail muncul sebagai film terbaik di festival ini. Film ini juga dipilih untuk mewakili Indonesia di Asia Film Festival II di Singapura. Film ini dianggap sebagai karya terbaik Usmar Ismail. Sebuah film yang mengeluarkan kritik sosial yang sangat tajam tentang para pejuang setelah kemerdekaan. Pada 1980-an, produksi film lokal meningkat. Dari 604 di tahun 70-an hingga 721 judul film.

Jumlah aktor dan aktris juga meningkat pesat. Begitu pula dengan audiensi yang akan datang. Tema komedi, dan musik menangkap produksi film pada tahun-tahun itu. Menerima film dan bintang film yang direkam adalah sukses besar dalam menjangkau pemirsa. Warkop dan H. Rhoma Irama adalah dua nama yang selalu ditunggu oleh penonton setianya.

Film Notes The Boy dan Lupus hanya diproduksi beberapa kali karena berhasil mendapat untung dari jumlah penonton yang mencapai angka khusus. Tetapi yang paling monumental dalam jumlah penonton adalah film Pengkhianatan G-30S / PKI yang penontonnya (Orde Baru) adalah 699.282, masih sangat sulit ditandingi oleh film lokal lainnya. Di awal pemutaran film, ada satu bioskop yang memiliki beberapa penonton di kelasnya, di tahun 80-an bioskop ini menjadi berkelas.

foto untuk perkembangan film Indonesia
pict by jatimtimes.com

Film, apa pun genrenya, bukan hanya puncak dari sebuah karya seni yang melengkapi berbagai cabang seni. Berkat saudara Lumire, film menjadi industri yang melibatkan banyak orang dan menjadi salah satu alat representasi budaya. Karya-karya film juga merupakan sarana dokumentasi, pengingat kehidupan manusia di masa depan.

Read More : Film Sci-Fi Terbaik yang Mengesankan dan Sulit untuk di Lupakan

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: