Pengalaman Kursus Bahasa Inggris di Kampung Inggris, Pare, Kediri

Perkenalkan nama saya Latifah Fitria Nuraeni, saya lahir di Cilacap, 3 Juni 1998. Saya akan menceritakan pengalaman saya kursus di Kampung Inggris, Pare. Yang saya lewati selama 6 minggu pada awal tahun 2017. Saya berangkat bersama kakak laki laki saya, yang hendak belajar bahasa inggris di Pare demi meraih nilai TOEFL yang baik untuk s2nya.

Dimulai dari keberangkatan kita pada awal bulan Februari 2017 menaiki kereta dari stasiun Maos, Cilacap dan menempuh perjalanan selama 10 jam untuk sampai di stasiun Kediri. Setibanya saya di Kediri, saya mulai menguatkan diri saya untuk berpisah dengan kakak saya karena kita memang berniat belajar masing masing tanpa ketergantungan satu sama lain, kecuali masalah biaya.

Hari hari awal saya disana terasa sangat lama, saya akan ceritakan runtut dari minggu minggu pertama, sebagai berikut:

2 Minggu Pertama

Sebagai seorang perantau, pastinya banyak perbedaan yang harus dipahami, walaupun masih di pulau Jawa, tetapi perbedaan kerap ditemukan oleh saya, seperti bahasa, kultur, lingkungan, dan lain lain.

Di hari pertama datang saya sudah disewakan sepeda oleh kakakku, karena memang hanya itu kendaraan yang memungkinkan untuk akses di kampung Inggris selama 2bulan disana.

Saya mendaftar belajar bahasa Inggris di Lembaga ELFAST, dengan mengambil 3 program sekaligus yaitu program 1 bulan untuk belajar grammar, yaitu Basic Program 1, program 2 minggu untuk belajar vocabulary (Kosa Kata), yaitu Vocabulary 1, dan program 2 minggu untuk belajar Pronunciation (Pengucapan), yaitu Pronunciation 1. Jadwal tidak akan bentrok, karena masih 1 lembaga jadi sistem dari sana sudah mengetahui dan mengambil jalur alternatif membagi jadwal per orang.

Belajar disana cukup membantu menambah pengetahuan saya pada saat itu, banyak teori teori yang sebenarnya susah di pelajari jika dengan metode biasa, tetapi disana kita diajarkan berbagai tips tips belajar yang efektif dan sangat membantu.

Saya adalah tipe orang yang kurang pandai bersosialisasi di awal perkenalan, maka dari itu di minggu pertama saya belajar di ELFAST, saya benar benar anti sosial atau lebih sering menyendiri. Dari pagi berangkat belajar, sampai mencari makan sendiri mengelilingi Kampung Pare dengan mengendarai sepeda. Dimasa itu saya benar benar merasakan indahnya menyendiri, bersepeda, mendengarkan musik dan tidak peduli apa yang ada di sekitar saya.

Di minggu kedua, saya sudah cukup memiliki teman karena asrama saya juga lumayan mendukung dengan 4 orang setiap kamarnya. Saya sudah mulai ada teman makan dari kelas di tempat kursus, maupun di asrama, karena sebenarnya saya ini kalau tidak terpaksa saya tidak bisa makan diluar sendirian. Walaupun disana saya belajar, namun menurut saya lingkunganlah yang paling berpengaruh dalam membentuk mood belajar, mencari kenyamanan dengan teman baru dan lingkungan yang baru.

Setelah berjalan 2 minggu, 2 program yang saya ambil yang berdurasi 2 minggu telah usai, namun, saya kembali mengambil program lain untuk mengisi waktu luang, karena jika hanya belajar 1 program yang tersisa, serasa waktu yang dipergunakan untuk santai santai amatlah sia-sia.

Saya kembali mengambil program speaking 2 minggu, yaitu The Therapy  1. Semua berjalan lancar dengan perkenalan ulang dengan teman baru di program tersebut, karena saya sudah memiliki teman yang berjanji untuk masuk program ini bersama, jadi tidak perlu khawatir mencari teman lagi, tapi tetap memperbanyak relasi itu penting.

2 Minggu Kedua

Setelah mengakhiri program 2 minggu pertama, saya dan teman teman saya di ajak untuk berlibur oleh Tutor saya yaitu Mr. Amir. Bukan sekedar main biasa, beliau mengajak kita untuk melihat sunrise di Bromo dan mengelilingi Malang, benar benar pengalaman yang tidak dapat dilupakan.

Pada hari sabtu malam, kita berangkat dari Pare untuk menuju ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, spot sunrise yang terkenal akan keindahannya. Sampai disana sekitar pukul 3 pagi, kita berpindah kendaraan dengan menggunakan Jeep, tentunya dengan driver yang sudah berpengalaman. Setelah sampai, kita bersiap untuk menaiki Bukit taman nasional Bromo untuk melihat Sunrise atau matahari terbit. Benar benar pemandangan yang sangat Indah, karena sebenarnya saya adalah pengagum langit, bintang, dan bulan.

Setelah melihat pemandangan pagi yang luar biasa, belum sampai jam 7 pagi kami sudah beranjak menuju lokasi selanjutnya yaitu Bromo Pasir Berbisik, spot foto yang indah dengan hamparan pasir hitam pekat bagaikan gurun pasir sahara berwarna hitam.

Menuju jam 8 pagi, kami lanjut ke Bukit Teletubbies Bromo. Setelah melihat hamparan pasir yang hitam, kami beralih ke hamparan rumput hijau yang luas, sangat menyegarkan mata dan menyejukkan hati, angin yang berhembus sangat menenangkan pikiran.

Selesai kami menikmati pemandangan hijau, kami melanjutkan ke tujuan utama kami yaitu Gunung Bromo, siang itu sesampainya di lokasi  cuaca di sana sangat panas, dan gunung Bromo memiliki ketinggian 2.329 m, waktu hampir menunjukkan pukul 12 siang, maka dari itu saya memutuskan untuk tidak mendaki ke puncak gunung Bromo, karena sebenarnya saya itu tidak suka mendaki gunung, hanya penikmat apa adanya.

Destinasi kedua adalah Paralayang, Malang. Karena pada saat itu kita sampai disore hari, maka kita tidak bisa melihat keindahan Kota Batu dari atas bukit tersebut, dikarenakan kabut yang sudah menutup pandangan kami, walaupun begitu kita di gantikan dengan pemandangan kesukaan saya, yaitu kerlap kerlip kota yang dilihat dari atas bukit bagaikan bintang yang menyatu dengan langit. Best view ever!

Kepulangan dari berlibur sehari tersebut membuatku sedikit terperbarui semangat belajarnya, sehingga 2 minggu keduaku berjalan dengan bahagia bahkan terasa cepat sekali berlalu.

2 Minggu Ketiga

Setelah 1 bulan, program Basic programku telah berakhir, sebenarnya kakak saya sudah ingin pulang ke cilacap karena dia telah mencapai apa yang diinginkan, tetapi saya meminta perpanjangan 2 minggu karena saya ingin mengambil 2 program 2 minggu lagi, dan saya lupa mengambil program apa.

Di program ini saya memaksimalkan masa masa terakhir saya berada di Kampung Inggris, Pare. Belajar adalah tujuan utama saya, tapi pengalaman adalah pelajaran terpenting.

Ada saat waktu luang yang saya habiskan bersama kakak saya, satu hari itu kami melakukan perjalanan ke Surabaya menuju ke rumah saudara jauh disana, perjalanan selama 2 jam melalui Tol, suasana yang dirasakan, pengalaman yang indah, kekeluargaan yang harmonis sangat terasa. Setibanya di Surabaya kita bertukar cerita karena lama sudah tidak bertemu.

Sepulang dari rumah saudara kami, kami mampir di salah satu taman besar di Surabaya, tapi saya lupa namanya. Perjalanan dari Surabaya ke Kediri kami lewati pada malam hari, untungnya kami menyewa mobil di Pare jadi kami tidak mengalami masuk angin atau sebagainya karena perjalanan malam ini.

Sampai di Kota Kediri kami mendedikasikan waktu terakhir kami malam itu untuk mampir di Monumen Simpang Lima Gumul, disana kami berbincang bincang tentang pengalaman masing masing belajar di Kampung Inggris, bertukar pikiran, bertukar ilmu dan tentu saja berfoto foto.

Begitulah, sedikit banyak pengalaman yang bisa saya bagikan untuk sementara ini, pada intinya pengalaman ini tidak akan saya lupakan, karena ini merupakan pengalaman pertama saya merantau jauh dari orangtua.

Pesan saya, selagi masih muda, carilah pengalaman sebanyak banyaknya, jangan takut untuk memulai, percayakan kepada Allah apapun yang akan terjadi, terus berdo’a agar dipertemukan dengan orang orang yang baik diluar sana. Sekian, terimakasih telah membaca artikel saya, mohon maaf atas kesalahan pengetikan maupun penjelasan diatas.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: