Pengalaman Bermalam Di Rumah Sakit Selama 32 Hari

Nama saya Latifah Fitria Nuraeni, saya lulus SMA pada tahun 2016, dari MA PPPI Miftahussalam, Banyumas. Pada tahun itu pula saya mencoba untuk melanjutkan pendidikan saya di jenjang berikutnya yaitu, perkuliahan. Saya mencoba mengikuti tes SBMPTN saat itu, dengan modal nekad, saya mengambil Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris pada pilihan pertama di Universitas Negeri Yogyakarta.

Tes berjalan dengan lancar pada saat itu, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan harapan, saya tidak diterima, karena mungkin kurangnya persiapan yang matang. Karena tidak terlalu berharap bisa kuliah, saya memutuskan untuk mendaftar pondok tahfidz, di Solo.

Singkat cerita, saya mempersiapkan segala persyaratan sendirian, tetapi pada saat mendekati keberangkatan, ada satu syarat yang belum terpenuhi, yaitu Surat keterangan sehat yang harus saya dapatkan di Puskesmas terdekat. Akhirnya pada saat itu saya segera memenuhi syarat tersebut ke Puskesmas terdekat bersama Ayah saya.

Setelah semua yang dibutuhkan di Puskesmas terpenuhi, saya dan ayah saya pulang kerumah. Karena perjalanan dari rumah ke puskesmas itu dekat, maka saya tidak mengenakan Helm. Singkat cerita, terjadilah kecelakaan yang membuat kepalaku cidera, dan membuatku harus dirujuk dari puskesmas ke Rumah Sakit Margono Paviliun Abiyasa atau Geriatri.

Masa Kritis

Pada saat ini, saya mengalami kehilangan kesadaran secara jiwa selama 2 minggu pertama, yang artinya saya sadar secara raga, bisa sedikit berkomunikasi dengan keluarga maupun dengan kerabat dekat atau teman yang menjenguk, tetapi pada saat saya sadar secara jiwa dan raga, ternyata saya sudah berada dirumah sakit selama 2 minggu.

Pada saat itu, dokter memberitahu keluarga saya kalau saya diharuskan untuk operasi, lalu keluarga sudah menyetujui untuk dioperasi, tetapi ada satu syarat yang kurang memadai dalam tubuh saya jika ingin melakukan operasi, yaitu kurangnya zat yodium dalam tubuh dan HB darah. Karena menambah zat yodium dan HB darah bisa dilakukan secara manual, akhirnya saya menunggu dengan mengonsumsi makanan yang mampu menambah zat yodium tersebut.

Selagi menunggu zat yodium dan HB darah saya memenuhi persyaratan dan tidak sebentar, orangtua saya pernah bercerita, semasa 2 minggu saya tidak sadarkan diri secara jiwa, saya benar benar lupa akan keadaanku sebelumnya, bisa dibilang sedikit ingatannya menghilang, bahkan sampai sekarang. Kadang hal hal kecil yang seharusnya menjadi kenangan dengan orang orang terdekat tidak bisa saya ingat.

Ada suatu saat di 2 minggu pertama saya dirumah sakit, teman teman MA saya menjenguk saya, lalu saya di tes nama mereka satu persatu, dan yang terjadi adalah saya melupakan nama salah satu teman dekat saya begitu saja.

Masa setelah masa kritis

Setelah melewati masa kritis, akhirnya saat 2 minggu sudah saya di rumah sakit, saya sadar secara jiwa dan raga, saya merasakan seperti bangun tidur biasa, ada 5 infus yang menempel pada kedua tangan saya, suasana menegangkan bagi saya, waktu menunjukan pukul 1 siang, semua orang di sekitar saya sedang tidur siang, sewaktu nenek saya bangun, saya bertanya kepada nenek saya, sudah berapa lama saya disini, beliau menjawab kalau saya sudah di rumah sakit selama 2 minggu, benar benar diluar nalar jika saya menjelaskan kalau tidak tahu apapun selama 2 minggu, karena raga saya sadar seperti manusia normal.

Saya melewati masa kritis sebelum operasi, dokter dan para perawat terus mendukungku agar bisa mendapatkan zat yodium yang normal agar bisa melakukan operasi.

Hari demi hari berlalu, semakin lama rasanya kepalaku semakin enteng, tetapi tidak untuk beranjak dari ranjang. Banyak teman teman lama juga yang menjenguk, seperti teman SD yang sudah berpisah sangat lama.

Ada satu hari, dimana teman teman SD saya datang menjenguk saya ada sekitar 15 orang, menghibur saya bersenda gurau, rasanya senang melihat mereka semua bisa berkumpul lagi setelah melewati masa remaja masing masing. Mereka berkunjung hampir satu hari, setelah itu sampai saat ini bahkan kita memiliki grup di Whatsapp, dan Alhamdulillah, hikmah dari sakit saya selama di rumah sakit menyatukan lagi tali silaturahmi yang sudah lama terlupakan.

Kembali pada kondisi saya pada minggu ketiga, dokter masih menganjurkan saya untuk terus berusaha menambahkan zat yodium dan HB darah agar bisa melakukan operasi. Pada saat itu saya dianjurkan untuk meminum susu penambah gizi, dan terus berusaha memakan makanan yang di rekomendasikan.

Dalam kondisi itu, saya menyadari suatu hal, pada saat saya makan maupun minum, saya tidak bisa mencium bau dari makanan tersebut. Saya terkejut setelah meneliti selama hampir satu minggu, lalu saya mengatakannya pada kedua orangtua saya, dan orangtua saya konsultasikan kepada dokter. Ternyata benar adanya, dokter mengkonfirmasi kalau hidung saya “sementara” tidak bisa mencium bau, saya masih menerima karena dokter mengatakan kalau itu hanya sementara.

Masa Pemulihan

Minggu keempat, dokter kembali mengecek kondisi saya, karena zat yodium dan HB belum mencukupi, sampai saat itu saya belum juga dioperasi, dokter mengecek kondisi saya melalui darah yang diambil dari tangan saya. Dan keputusan dokter pada saat itu membuatku dan keluarga tercengang, setelah banyak berdo’a kepada Allah, Alhamdulillah Allah mengangkat sakitku terlebih dahulu sebelum dilakukan operasi. Rasa syukur sangat kami panjatkan kepada Allah.

Setelah mengetahui kondisiku yang sudah di masa pemulihan, minggu terakhir itu ku manfaatkan untuk belajar berjalan, karena tulang tulang saya pada saat itu sangat lemah dikarenakan tidak pernah beranjak dari ranjang selama 3,5 minggu. Belajar dudukpun butuh waktu, belajar duduk dikursi roda, jalan jalan menggunakan kursi roda ke dunia luar yang saya rindukan. Belajar jalan di lorong lorong rumah sakit ditemani dengan kakak kakak saya, keluarga yang lain, maupun sahabat sahabat saya.

Saat yang ditunggu telah tiba, setelah menunggu konfirmasi dari dokter mengenai kondisi kesehatan saya, akhirnya dokter menyetujui kalau saya sudah normal dan diperbolehkan untuk pulang ke rumah.

Malam itu kami melaksanakan perjalanan menuju kerumah selama 1,5 jam, setelah sampai dirumah saya baru menyadari dan lupa akan hal yang ingin saya tanyakan kepada dokter, mengenai indera penciuman saya, yaitu hidung saya yang belum bisa mencium aroma apapun. Dengan saran orangtua, saya dianjurkan untuk terapi manual dengan mencium aroma aroma yang menyengat maupun mencium aroma yang diinginkan, seperti minyak kayu putih, jahe, kencur dan lain lain.

Efek Jangka Panjang dari Kejadian Ini

Beberapa bulan berlalu dengan saya yang terus melakukan terapi manual untuk dapat mencium aroma, tetapi hasilnya nihil. Akhirnya orangtua saya memutuskan untuk kami pergi ke poli syaraf di rumah sakit yang sama dan bertemu dengan dokter yang telah merawatku selama 1 bulan lalu. Yang dikatakan dokter benar benar membuatku tercengang untuk kedua kalinya, dokter berkata bahwa masalah ini tidak memiliki solusi, baik itu obat maupun operasi, yang bisa dilakukan oleh orang yang mengalami ini biasanya hanya terapi sendiri, yang bisa dilihat hasilnya maksimal 1 tahun, jika 1 tahun tidak sembuh, berarti tidak bisa kembali seperti semula.

Kehidupanku setelah itu, sedikit berbeda dan setelah menunggu sampai 1tahun dan terus terapi manual, penciuman saya akhirnya kembali tetapi hanya dapat membedakan aroma yang wangi dan busuk, tidak sepeka orang normal yang mengetahui aroma apapun tanpa melihat bentuknya.

Pengalaman yang menyakitkan sekaligus sebuah pelajaran yang saya kenang sampai sekarang, mendapat perhatian dari orang sekitar, orang terdekat adalah hal yang paling saya rindukan, tetapi tidak dengan sakitnya. Sampai saat ini efek terakhir yang saya rasakan masih sama dengan setelah setahun saya keluar dari rumah sakit.

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: