Mengunjungi Nusakambangan Bareng Sahabat

Ngeri nggak sih sama Nusakambangan, yaaa buat orang asing yang ke Cilacap sih kayanya ngeri ya, tapi kami sebagai orang Cilacap udah familiar banget sih. Selain pulau ini terkenal dihuni para narapidana dan sebagai tempat eksekusi hukuman mati di Indonesia, pulau ini juga punya sisi indah loh, yaitu pantai Pasir Putih yang bersih dan Benteng-benteng peninggalan zaman perang yang aesthetic.

Ceritanya aku sama temen-temen kampusku tuh pengin banget liburan bareng, tapi kita bingung mau kemana. Kalo bareng sih di Purwokerto juga udah sering, sampe bosen malah ketempat itu-itu aja.

Setelah mempertimbangkan waktu yang tepat, yaa yang semuanya bisa bergabung, akhirnya jum’at itu kami memutuskan untuk hari sabtu mereka ikut mudik aku ke cilacap, hehe.

Keberangkatan Awal

Pada hari sabtu pagi, kami bersiap-siap untuk melaksanakan perjalanan dari Purwokerto ke Cilacap yang akan ditempuh, yakni sekitar 41km.

Kami beriringan sepanjang jalan mengendarai motor, selama kurang lebih 1jam.

Setelah menjalani perjalanan panjang yang ramai, kami sampai dirumah orang tuaku, di Cilacap.

Aku sangat senang mendapat kunjungan dari teman-teman kuliahku. Saat mereka tiba, mereka bertemu dengan kedua orang tuaku dan meminta izin untuk menginap semalam dirumah.

Ketiga teman perempuanku yaitu Nuzul, Oni dan Nisa tidur bersama di satu kamar depan, dan dua teman laki-lakiku menginap dirumah nenekku di samping rumahku.

Malam itu kami berkumpul di balai belakang rumahku untuk makan malam bersama dengan menu dari Ibuku. Setelah selesai makan malam, kami bermain Uno, suasana yang sangat aku rindukan sekarang, huhu.

Keesokan Harinya

Hari minggu datang, kami bangun untuk melaksanakan sholat shubuh. Selepas melaksanakan sholat shubuh, kami bersiap-siap untuk berangkat ke Pantai Teluk Penyu dan mengejar sunrise.

Setelah selesai siap-siap, ternyata kami kesiangan. Kami berangkat pada pukul 05:30 pagi. Kami melakukan perjalanan ke Pantai Teluk Penyu selama setengah jam, setelah sampai kami sedikit kecewa karena langit pagi itu mendung dan hanya sedikit matahari yang terlihat.

Walaupun kami gagal melihat sunrise, tetapi kami tetap menikmati sekali pagi itu dengan memesan mendoan dan teh anget di pesisir pantai. Nikmatnyaaaa.

Pada pukul 08.00 WIB, kami bimbang, karena bingung mau kemana lagi setelah menikmati pagi di pesisir Pantai Teluk Penyu. Kami berunding. Dan karena sebagian temanku ada yang belum pernah megunjungi Pulau Nusakambangan.

Akhirnya kami memutuskan untuk menyeberang ke Pulau Nusakambangan tersebut menggunakan perahu yang disewakan di sepanjang pesisir pantai.

Menyeberanglah Kami

Ditengah cuaca yang agak mendung pagi itu, akhirnya matahari menyinarkan sedikit cahayanya pertanda hari mulai siang.

Kami menyeberang ke ujung Pulau Nusakambangan dengan menaiki perahu yang kami sewa seharga 25.000 per orang, itupun bolak-balik.

Perjalanan menuju ujung Pulau Nusakambangan kita tempuh selama kurang lebih 15 menit. Kami turun dari perahu dan mendapat tawaran dari anak kecil di Pulau Nusakambangan untuk menjadikannya Tour Guide kami.

Sebenarnya, pada saat itu saya sudah pernah mengunjungi Pulau Nusakambangan, tetapi karena iba melihat anak tersebut, kami pun menyetujui untuk dipandu olehnya.

Perjalanan di dalam Pulau Nusakambangan

Nih aku jelasin dulu ya temen-temen, Pulau Nusakambangan itu kan Pulau kecil   di Kabupaten Cilacap, dia tuh ada ujung pulau kan yang deket sama Pantai Teluk Penyu.

Kita tuh tinggal turun dari perahu di bagian utara pulau, lalu jalan kearah Selatan untuk sampai di Pantai Karangbolong atau pantai pasir putihnya Pulau Nusakambangan. Paham kaaan, paham dong ya.

Nah kita berjalan melewati ujung pulau selama 1 jam lamanya, melewati hutan belantara, tetapi masih aman untuk dilewati manusia.

Selama perjalanan kita benar-benar menikmati kebersamaan kita, dengan medan yang naik turun bak menaiki gunung, perjalanan tetap terasa melelahkan tetapi sekaligus merasa bangga dapat membawa sahabat-sahabatku kesini, untuk pertama kalinya bagi mereka.

Di pertengahan pulau, kita bertemu dengan benteng-benteng peninggalan yang masih lumayan terjaga. Menurut cerita yang aku denger, benteng tersebut adalah benteng yang menyambung dengan Benteng Pendem di Pulau Jawa, yaitu di dekat pesisir Pantai Teluk penyu, mengesankan!

Kita juga melewati terowongan bawah tanah benteng tersebut, cukup menegangkan tetapi kami mencoba berani karena di pandu oleh anak kecil yang lebih berani dari pada kita, haha.

Selain kita melihat dan melewati benteng, disitu kami juga melihat sebuah meriam yang sangat besar dan mengarah ke Pulau Jawa.

Perjalanan yang terbayarkan

Setelah melewati perjalanan 1 jam itu, sampailah kami di pantai pasir putih yang indah. Teman-temanku pun sangat gembira melihat pemandangan tersebut.

Sebelum sampai dipesisir pantai, kami harus menuruni bukit terlebih dahulu, dan pemandangan dari atas yang begitu indah mulai membuat kami sama sekali tidak menyesal berjalan sejauh 1 jam.

Pemandangan indah tersebut hanya bisa kita nikmati tidak lebih dari 2 jam, karena kita harus mengejar waktu untuk pulang ke rumah dan kembali ke Purwokerto sore harinya, untuk keesokan hari senin yang produktif yaitu kuliah.

Pada pukul kurang dari jam 12, kami memutuskan untuk kembali ke sisi utara Pulau Nusakambangan dengan berjalan kaki di siang yang panas kala itu.

Cerita di Perjalanan Pulang

Di perjalanan, kami mendengarkan cerita dari anak kecil yang memandu kami, sebut saja dia Aqila. Aqila menceritakan sebuah desa di pulau Nusakambangan yang baru aku ketahui pula adanya.

Aqila berkata, jika di pulau ini ada desa yang belum sama sekali tersentuh aliran listrik. Sangat mendalam dan  jauh dari pusat kota. Cerita itu entah kenapa membuatku penasaran sekaligus bersyukur. Penasaran bagaimana bisa orang pada zaman sekarang tidak memiliki aliran listrik dirumahnya, seperti pada zaman dahulu saja.

Kemungkinan besar lagi, orang-orang disana pasti tidak memiliki signal untuk ponsel mereka, atau bahkan belum ada ponsel yang masuk ke daerah mereka.

Aqila juga menceritakan sedikit tentang dirinya. Dia adalah warga Pulau Nusakambangan yang berusia sekitar 10 tahun. Dia bilang kalau dia itu bersekolah ke Pulau Jawa dengan mengendarai perahu setiap paginya, dan disuruh memandu di objek wisata ini oleh ibunya, kebetulan, ibunya juga berjualan makanan di pintu masuk Pulau Nusakambangan.

Aqila adalah siswa SD kelas 5, tapi semangatnya dapat menyadarkanku, dan membuatku kembali bersyukur. Karena dia bekerja memandu orang-orang dengan tarif seikhlasnya untuk membayar sekolah dan memenuhi kebutuhan kebutuhan sekolahnya.

Setelah sampai disisi utara pulau Nusakambangan. Kami berpisah dengan Aqila yang sudah kami sayangi, karena kami anggap sebagai adik kami sendiri.

Aku dan teman-teman bahkan ingin merencanakan lagi liburan kesini untuk menengok Aqila, Insyaaallah.

Semoga Allah selalu memudahkan urusan Aqila dan kita semua, Aamiin.

Setelah kita sampai di daratan pesisir Pantai Teluk Penyu. Kami bersiap untuk pulang kerumah.

Sesampainya dirumah, kami bersiap untuk kembali ke Purwokerto. Setelah siap, kami berpamitan kepada kedua orangtuaku dan keluargaku.

Perjalanan menuju Purwokerto kami lalui lagi dengan beriringan tiga motor. Dan menuju ke kost masing-masing.

Semoga pengalaman ini bisa terulang kembali bersama sahabat-sahabatku yang anti wacana tersebut, Aamiin.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: